Group Exhibition: Waiting For It To Happen | 21-26 April 2016 | Nadi Gallery, Jakarta

posted in: ACTIVITIES | 0

PLATFORM3 together with NADI GALLERY proudly present

WaitingForItToHappen-Web-02

 

WAITING FOR IT TO HAPPEN

A Group Exhibition

Agus Suwage, Antonio Sebastian Sinaga, Budi Adi Nugroho, Erika Ernawan, Guntur Timur, Mujahidin Nurrahman, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Rosid, Tara Astari Kasenda, Tisa Grancia, Tromarama, Yuli Prayitno

12-26 April 2016

Nadi Gallery

Jl. Kembang Indah III Blok G3 no. 4-5 Puri Indah

Jakarta 11610

 


 

Booming seni rupa kontemporer satu dekade lalu serta merta merubah wajah seni rupa kontemporer di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia; riuhnya pasar seni rupa mendinamisasi medan kapital dan sosialnya. Pertumbuhan galeri-galeri komersial, serta kemunculan rumah-rumah lelang, studio-studio seniman yang megah, museum-museum pribadi, penerbitan-penerbitan buku seni, kemunculan para kolektor muda, bahkan pameran-pameran di negara tetangga serta art fair begitu marak, terutama kurun 2005-2014. Di sisi lain, pertumbuhan ini begitu rentan karena tak diimbangi kemunculan lembaga-lembaga seni seperti museum seni yang memadai. Lembaga pendidikan tinggi seni yang ada pun tak begitu adaptif dalam membaca gerakan zaman sehingga lambat dalam menjemput bola kemajuan. Belum ada dari mereka yang mengembangkan secara khusus keahlian sejarah seni, kurator, tenaga bisnis dan administrasi seni atau khusus ilmu museum seni.

Kondisi tersebut membuat medan sosial seni rupa di Indonesia menjadi rapuh dan selalu mengikuti pasar bebas seni rupa. Kerapuhan medan kapital-sosial seni rupa terutama karena nilai-nilai didalam karya seni selalu disandarkan kepada mekanisme pasar seni rupa, sehingga ketika keseimbangan di wilayah ekonomi terganggu maka akan mempengaruhi nilai-nilai sekitar dunia seni termasuk aktivitasnya. Hal ini tak banyak terpengaruh di dalam medan sosial-kapital seni rupa di negara-negara dimana seni rupa mendapatkan perhatian besar atau menjadi bagian aktifitas yang dinaungi negara seperti di Australia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Taiwan dan lainnya. Guncangan ekonomi dunia seperti yang terjadi baru lalu tak banyak mempengaruhi aktivitas seni rupanya. Bagaimanapun nilai-nilai seni dan aktivitas seni disana masih kukuh dan stabil, apalagi perkembangan di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara.

Dengan kata lain, peran negara melalui lembaga-lembaga pendidikan tinggi seni, departemen-departemen dalam pemerintahan yang menaungi seni dan budaya, museum dan lainnya, menjadi terasa signifikan. Selain sebagai lembaga penyeimbang, lembaga seni rupa negara akan menjadi “penjamin” keberlanjutan kehidupan seni dan nilai-nilai disekitarnya. Hambatan-hambatan didalam lembaga-lembaga tersebut, tentu lebih terkait kepada sumber daya manusia dan sistem yang mengatur mekanisme kebijakan. Para pelaku seni rupa di Indonesia kebanyakan seperti seniman, penulis, kritikus, kolektor, pengelola galeri yang berjalan di atas mekanisme pasar tentu juga memiliki problematikanya sendiri, tetapi apakah mungkin kondisi ini menjadi suatu potensi yang harus dipertimbangkan secara khusus? Kenyataannya, walaupun tanpa dukungan pihak pemerintah, kita bisa melihat telah muncul berbagai aktvitas seni rupa yang masih berlanjut, mulai dari pameran-pameran, pendirian galeri, ruang seni dan museum, penerbitan, biennale, dan lain sebagainya.

PLATFORM3 sendiri didirikan atas dasar situasi di atas dengan segala keterbatasannya. Sejak tahun 2009 hingga sekarang, PLATFORM3 terus berupaya untuk menjadikan ruang aktivitas seni yang mampu memediasikan gagasan-gagasan baru para seniman; mengadakan pameran dengan pendekatan khusus kepada para seniman, berdiskusi dengan penuh kedalaman, berbagi pengalaman dan gagasan, maupun menyediakan ruang kerja sementara dan mendiskusikannya dalam proses menghasilkan karya-karya selama satu bulan masa residensi.

Pameran Waiting for It to Happen merupakan pameran kelompok yang digagas oleh PLATFORM3. Pameran ini menampilkan karya-karya dari sejumlah seniman yang mendukung gagasan dan kegiatan-kegiatan PLATFORM3. Waiting for It to Happen merupakan frasa yang mengadopsi Waiting for Godot, pertunjukan karya Samuel Beckett, tentang penantian yang tak jelas, absurd. Waiting for It to Happen menganggap masa penantian tentulah tidak sia-sia. Dalam penantian, ada banyak hal bisa dilakukan, bahkan mungkin lahir banyak ide yang mungkin saja di kemudian hari dapat berujung menjadi sesuatu yang berarti.

 

PLATFORM3 mempertemukan sejumlah seniman dalam pameran ini, sebagai sebuah cara berbagi juga. Berbagi semangat kami untuk terus mengupayakan perkembangan karya-karya seni, dan harapan bahwa pameran ini menjadi ruang tempat bertemu dengan berbagai kalangan yang antusias terhadap seni. Karya-karya didalam pameran Waiting for It to Happen secara sukarela disertakan oleh para seniman terlibat dan sebagian hasil penjualannya akan digunakan untuk mendanai berbagai program-program mendatang Platform3.

Kami berterima kasih khusus kepada para seniman yang mendukung pameran ini, juga kepada Mas Biantoro Santoso dan tim Nadi Gallery dan juga kepada para seniman yang selama ini telah memberikan kontribusi kepada kegiatan Platform3.

Semoga berkenan,
Tim PLATFORM3 Bandung

 


ARTWORKS

Please click on the image to enlarge