LATAR/

TAJUK

 

oleh
Wiyoga Muhardanto

Saya pertama kali menginjakkan kaki akademis saya di Bandung tahun 2002, meski pun, sudah berulang kali saya plesir ke kota Bandung, terutama sejak tahun 90-an. Bandung yang dahulu (bahkan sampai sekarang) dikenal sebagai Parijs van Java ini memang menawarkan beragam kekhasan, sebut saja seperti udara yang sejuk, karakter masyarakatnya yang lembut serta, yang tampak oleh mata, banyak bangunan bersejarah layaknya kota–kota di Eropa. Paling tidak, itulah yang saya rasakan langsung ketika ada di kota Bandung sebagai turis. Baru pada awal tahun 2000-an, melalui sebuah majalah terbitan Bandung, yaitu majalah Trolley, saya mengenal karakter "anak muda" di kota tersebut melalui desain grafis. Kala itu majalah tersebut merupakan salah satu kiblat desain dan seni bagi saya. Teringat oleh saya bagaimana pada awalnya saya mencita-citakan untuk menjadi pendesain grafis dengan gaya seperti yang ada di majalah Trolley itu. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk sekolah desain grafis.

 

Lain harapan dari kenyataan, ternyata saya diterima di jurusan seni murni. Sama seperti kebanyakan mahasiswa lain yang merasa bahwa pekerjaan tidak perlu mengikuti pendidikan kuliah, saya pun tidak menutup kemungkinan untuk kemudian bekerja menjadi desainer grafis selepas lulus. Akhirnya saya memilih jurusan patung. Kampus, bagi saya ketika itu, merupakan tempat ide-ide liar berhamburan dan saya selalu senang karena saya berharap bisa memperdalam keilmuan desain grafis (pada awalnya, sebelum akhirnya ikhlas, saya belum mengubur mimpi untuk berkarir di bidang desain grafis). Pokoknya, kampus saya itu avant-garde dan Bandung tempat paling terdepan di bidang kreatif. Saya kira begitu dan akan terus begitu. Tapi…

 

Tidak hanya di dunia seni, dalam pergerakan kebangsaan, boleh dibilang Bandung juga cukup terdepan. Bandung memiliki peran penting dalam merekam pergerakan sejarah bangsa Indonesia; sebut saja, misalnya, Bandung sebagai kota dimana Indische Partij (Partai Hindia-Belanda), yang digawangi oleh Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) pada tahun 1912, didirikan. Kita tahu, partai ini merupakan cikal bakal terbentuknya Republik Indonesia dan sekaligus partai politik pertama di negeri ini. Selanjutnya pada 1927, kota Bandung juga mewadahi berdirinya Partai Nasional Indonesia yang diketuai oleh Ir. Sukarno yang nantinya akan menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.

 

Sementara itu, pasca kemerdekaan Republik Indonesia, Kota Bandung pernah mengalami peristiwa kebakaran hebat yang dikenal sebagai peristiwa ‘Bandung Lautan Api.’ Peristiwa ini dilancarkan untuk mencegah tentara Sekutu dan Belanda mengakuisisi kota Bandung sebagai markas militer. Tidak hanya itu, karena hawanya yang sejuk dan lokasinya yang terletak di dataran tinggi, Bandung sempat menjadi saksi sejarah atas konferensi perdamaian yang kita kenal sebagai Konferensi Asia–Afrika pada tahun 1955. Ternyata kota Bandung tidak selalu sepi dan pernah ramai.

 

Sebagai kota yang memiliki ikatan sejarah dengan bangsa–bangsa Eropa, baik secara politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan, secara khusus seni rupa bandung pada dekade 1950-an memiliki pengaruh yang kuat dari “barat.” Pengaruh ini tercermin dari warna, bentuk serta goresan yang terdapat pada karya–karya seni lukis pada masa itu. Ketika kita bicara mengenai seni lukis kota Bandung, nama Ries Mulder tidak bisa tidak tersebut sebagai salah satu sosok penting dalam pembentukan karakteristik seni rupa Bandung, dimana sebagai tenaga pengajar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (Institut Teknologi Bandung) ia menerapkan gagasan kubisme analitik kepada murid–muridnya.           

 

Sebagai salah satu tonggak periode kesenian Indonesia, pada 1954, beberapa perupa Bandung seperti Mochtar Apin, Achmad Sadali, Edie Kartasubarna, Srihadi, Angkama, Popo Iskandar dan But Muchtar yang merupakan murid–murid Ries Mulder, mengadakan sebuah pameran lukisan yang diadakan di Balai Budaya (Jakarta). Namun, bukannya mendapat sambutan yang baik, pameran tersebut mendapatkan kritik dari seorang Trisno Sumardjo yang menyebutkan dalam tajuk tulisannya yaitu “Bandung mengabdi laboratorium barat” bahwa praktik seni lukis seniman Bandung tidak berpijak pada tanah air. Trisno berharap agar pelukis-pelukis muda dapat membebaskan diri mereka selekas mungkin dari pengaruh Barat dalam karya mereka, dan dengan demikian mengembangkan “pribadi sejati” sebagai bangsa Indonesia.

 

Terlepas dari pro kontra atas pengaruh “barat” yang tercermin dalam lukisan para perupa Bandung di masa itu, gaya kubisme atau formalisme cukup memiliki peran terhadap ciri khas di kalangan akademisi seni rupa di Bandung yang mengedepankan aspek analitik serta konsep dalam proses penciptaan karyanya. Hal ini begitu penting dalam proses kekaryaan karena teknik merupakan salah satu langkah penting dalam penyampaian maksud dan tujuan karya seni, meski pun, bukan segala-galanya.

 

Sekarang, saya sudah menetap di Bandung, tetapi, saya tidak lagi merasakan bagaimana kota tersebut memiliki peranan penting dalam pergerakan kebangsaan dan kebudayaan di Indonesia seperti pada masa lampau. Semenjak memulai masa studi program Sarjana sampai sekarang, yang tersisa hanya bangunan peninggalan Belanda yang perlahan berubah menjadi kedai kuliner yang merebak dalam 10 tahun terakhir. Lambat-lambat, saya rasa Bandung semakin meninggalkan periode keemasannya dan menjadi lupa; perlahan-lahan menjadi sunyi senyap.

 

Meski pun, memang, di sisi lain kota Bandung pernah menjadi primadona dalam melahirkan perupa dan kegiatan seni rupa seperti kelompok Decenta (1973), kegiatan pasar seni ITB (1972) yang digagas A. D. Pirous, kemudian juga Bandung Art Event (2001) yang sempat diharapkan sebagai Biennal seni rupa kota Bandung. Jangan pula kita lupa beberapa perupa besar seperti Sunaryo, Nyoman Nuarta, Tisna Sanjaya, Krisna Murti, Arahmaiani, Agus Suwage dan beberapa seniman lainnya yang sudah memiliki rekam jejak secara Internasional berangkat dari Bandung. Tentu saja, berangkat menjadi kata kunci.

 

Saya percaya setiap zaman memiliki problemnya masing-masing. Para perupa di atas sudah pernah menemukan masalah zamannya dan berupaya menjawabnya melalui karya dan proses kekaryaannya. Kita tidak bisa terus menunggu mereka untuk memberi jawab atas permasalahan zaman kita. Ketika mereka mulai berkarir, belum ada yang namanya Internet di bumi Indonesia ini. Hal sederhana, tapi rumit, ini saja menjadi bukti bahwa zaman mereka dan kita sudah amat berbeda sehingga tantangannya juga berbeda.

 

Kalau diingat-ingat, perupa Bandung memiliki semacam kekhasan dimana perancangan gagasan menjadi suatu hal yang harus ditempuh seorang perupa sebelum mengeksekusi menjadi sebuah karya. Meskipun hasil akhirnya tidak sepenuhnya merefleksikan kehidupan sosial masyarakat Indonesia, namun bagi perupa Bandung adalah bagaimana kesadaran atas proses penciptaan sebuah karya mampu dipertanggung jawabkan baik bagi medan sosial seni maupun masyarakat awam. Kini zaman telah berubah dan berkembang secara cepat, Bandung juga terus melahirkan perupa–perupa muda yang berpartisipasi dalam forum seni rupa secara global. Tapi, kalau boleh saya jujur, mungkin bisa dibilang saat ini seni rupa Bandung hanya “Baratnya” saja yang tersisa, perlahan kemampuan analitik dari individu perupanya semakin berkurang dan tidak lagi menjadi Laboratorium Barat yang menjadi ciri khas di masa lalu seperti yang menjadi kritik Trisno.

 

Pasca meredupnya “booming pasar seni rupa Indonesia” pada tahun 2007, tidak sedikit perupa Bandung yang terseleksi atas kekarirannya sebagai seniman. Praktik kesenian di kota Bandung pun sempat mengalami ‘mati suri’ karena tidak adanya gairah dari para praktisi dan penggiat di kota Bandung untuk membangun suasana medan seni rupa yang kondusif di kota tersebut. Beruntung dalam dua tahun belakangan, beberapa perupa muda mulai menggiatkan kembali kegiatan pameran tunggal maupun kelompok, diskusi seni serta program penunjang kesenian lainnya di kota tersebut melalui ruang seni alternatif yang tersedia. Bagi saya, ini sebuah sinyal yang cukup positif dari seni rupa Bandung meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibangun dengan kerjasama berbagai pihak.

 

Sebagai penutup, saya selalu memiliki harapan atas perkembangan medan sosial seni rupa di kota Bandung ini. Saya ingin merasakan kebangkitan medan kebudayaan Bandung. Saya juga juga berharap apa yang sedang dibangun oleh para perupa muda Bandung saat ini dapat secara konsisten terus dijalankan dan berdampak kepada aspek praktik dan wacana seni rupa di masa mendatang. Sebagai salah seorang perupa dan pengelola ruang PLATFORM3, salah satu cara yang saya lakukan bersama–sama adalah dengan pembuatan Jurnal Latar ini. Jurnal ini dimaksudkan untuk mampu memfasilitasi dan mengundang para penulis untuk ikut serta membangun dan menjaga landasan seni rupa Bandung yang dulu pernah jaya, melalui ulasan serta kritik yang membangun.

 

 


Wiyoga Muhardanto adalah perupa, berdomisili di Bandung.