KESENIAN DALAM HIDUP KEBUDAYAAN

Ki Hajar Dewantara


Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Duta Suasana, Th. I, No. 12, 1 Mei 1952, hal. 8-9 dan 20.


Lahirnya Perasaan Indah

 

Meski pun arti perkataan “seni” itu berjenis-jenis menurut anggapan orang-orang yang berahli, namun pada umumnya bolehlah ringkasan pendapat orang-orang ahli itu kita simpulkan demikian: seni ialah segala ciptaan atau buatan manusia yang timbul dari jiwa perasaannya dan bersifat indah, hingga dapat menggerakkan perasaan manusia. Marilah keterangan yang sederhana ini kita bicarakan lebih lanjut agar dapatlah kita nanti mengerti akan isinya yang dalam.

Sebelumnya maka perlu sekiranya dikemukakan, bahwa seni itu keindahan yang diciptakan oleh manusia. Jadi keindahan alam tidak termasuk di dalamnya, walaupun ada juga hubungannya. Hubungan antara keindahan alam dan kesenian, ialah bahwa keindahan alam selalu mempengaruhi rasa keindahan manusia dan senantiasa menjadi sumber kesenian bagi para pencipta seni. Dalam hubungan ini hendaknya dimaklumi, bahwa dalam agama Islam diajarkan bahwa Tuhan itu bersifat indah dan mengingini segala keindahan.

Ciptaan manusia,” ucapan ini sudah mengandung arti, bahwa di dalam mengadakan sesuatu bentuk kesenian orang telah berlaku dengan sengaja, karena “ciptaan” atau “buatan” itu akibat daripada kehendak, sedangkan kehendak (kemauan) bukannya hanya “keinginan” yang masih mentah dan melayang-layang saja, namun yang sudah bersifat pasti dan tetap. Dalam “keinginannya,” orang tidak bertanggung jawab; sebaliknya “kehendak” itu terjadi dari gerak jiwa perasaan, sesudah diselidiki cukup oleh jiwa pikiran. Apabila pikiran belum menyelidiki dengan cukup, maka sebenarnya belum boleh kita memakai perkataan “kehendak.” Biasanya yang pada mulanya menggerakkan perasaan manusia itu ialah hawa-nafsu dan dorongan-dorongan kodrati lainnya, yang dalam bahasa asing disebut “instincten.”

Oleh karena mewujudkan kesenian itu bukan perbuatan yang sekonyong-konyong atau berlaku seketika, maka teranglah kesenian bukan buah hawa-nafsu, akan tetapi akibat dari kehendak, yang pasti dan tertentu serta sudah dipikir-pikirkan dengan masak. Di sini teranglah pula, bahwa kesenian itu tidak timbul dari “perasaan” saja, sekalipun dasarnya memang “perasaan,” namun juga berarti dengan “pikiran,” yang dalam waktu lahirnya kesenian itu, pada pokoknya memberi batas-batas yang patut antara apa yang “hak” dan apa yang “khayal,” menetapkan tepatnya imbangan-imbangan, dsb. Di sinilah letaknya sebab-sebab, yang mengakibatkan timbulnya kesenian yang rendah ataupun yang tinggi. Halus dan murninya perasaan, tenang dan tajamnya pikiran serta tetap dan kuatnya kehendak, itulah syarat mutlak untuk dapat menimbulkan bentuk-bentuk kesenian yang luhur dan indah sejati.

Dalam pada itu janganlah kita bersalah paham, lalu mengira bahwa “pikiran” boleh berbuat lebih daripada tugas dan kewajibannya, misalnya: menuntun geraknya perasaan dalam mewujudkan kesenian itu, mendorong-dorongkan sesuatu saran yang dapat menimbulkan kesenian, karya cipta, dsb. Pikiran tidak akan dapat menimbulkan kesenian, karena pikiran hanya dapat menetapkan “hak” atau “batalnya,” yakni “benar” atau “salahnya” sesuatu hal atau keadaan, tetapi sama sekali tidak akan sanggup dan cakap menentukan “bagus” atau “buruknya” perwujudan.

 

Syarat-syarat Keindahan

 

Perkataan “indah” inipun minta pembicaraan yang khusus juga. Apakah yang disebut indah? Bukankah sesuatu yang bagi seorang nampak sangat indahnya boleh jadi oleh orang lain disebut jelek? Adakah ukuran yang pasti untuk menetapkan indah atau tidaknya sesuatu barang atau keadaan?

Sungguh benar dan tepat pertanyaan-pertanyaan itu. “Indah” adalah sifat yang dapat menggerakkan rasa keindahan manusia, yaitu yang dapat memberi kesan senang atau puas pada rasa kesenian kita. Dan oleh karena rasa itu pada masing-masing manusia memang berbeda-beda, maka benarlah kadang-kadang ada sesuatu perwujudan yang disebut “seni” oleh orang yang satu, namun dianggap “jelek” atau “buruk” oleh orang lain.

Penetapan hal itu memang “individueel,” masing-masing orang berbedaan dan “subjectief,” amat berlekat dengan keinginannya orang masing-masing. Meskipun begitu keadaannya, tetapi ilmu pengetahuan dapat juga menetapkan garis-garis untuk dapat juga menetapkan garis-garis untuk dapat ukuran-ukuran yang pasti dan pada umumnya boleh terpakai untuk mengukur rendah atau tingginya kesenian.

Menurut ajaran ilmu keindahan yang disebut “aesthetica,” maka segala sifat seni itu pada umumnya terbatas oleh tiga syarat, yaitu: 1. Pepak (berjenis-jenis isinya), 2. Lengkap (yakni utuh) dan 3. Patut atau runtut seimbang (harmonis).

Untuk terangnya kita ambil suatu contoh, misalnya keadaannya orang berpakaian. Jangan dilupakan, bahwa caranya orang berpakaian itu adalah kesenian juga.

Orang yang berbaju putih, berpakaian serba putih, berudeng latar putih dan bercenela putih, tentulah ia akan menjemukan orang yang melihatnya, karena pakaiannya nampak sebagai pakaian yang “cebeléh” (tak hidup, tak menarik). Menjemukan ini berarti rasa kesenian kita agak tergoda, tidak dapat kesan senang, tidak puas. Untuk dapat menyenangkan rasa kesenian, perlulah bagian-bagian pakaian kita itu harus berjenis-jenis atau “pepak.”

Sekarang kita penuhi syarat “pepak” itu, misalnya ikatan kepala latar hitam, kain latar putih, cenela kuning.... akan tetapi kita tidak memakai baju, lalu rasa kesenian tergoda pula, sebab melihat pakaian yang tidak lengkap. Jadi berpakaian yang serba berkesenian itu harus lengkap juga. Baik, sekarang kita penuhi syarat “lengkap” itu; misalnya kita berkain (tetapi kain corak Pekalongan) kita berbaju secara Madura, sedang cenela kita adalah selo jinjit... bagaimanakah nampaknya pakaian yang pepak serta lengkap namun tidak “patut runtut” atau “harmonis” itu?

Dengan tiga ukuran itulah orang lalu dapat menetapkan keindahan-keindahan, misalnya dari candi Borobudur, bentuk-bentuknya wayang kulit, tari-tarian Jawa, Sunda, Bali, dll, suaranya gending-gending gamelan, wujudnya kraton dengan alun-alunnya, karangan-karangan para pujangga, barang-barang ukiran Jepara, wayang orang, nyanyian-nyanyian yang beraneka warna demikianlah seterusnya.

Pun dengan syarat tiga jenis itu kita lalu dapat menetapkan tinggi manakah kesenian “wayang-wong” dibandingkan dengan “ketoprak”; “wayang kulit” dibandingkan dengan “wayang golek” atau “wayang krucil” (kelitik).

Janganlah dilupakan, bahwa syarat-syarat tiga macam itu hanya mengenai sifat-sifat yang karena sebenarnya ada berapa keadaan lain yang khusus dan ikut juga memberi “stem,” yaitu mempengaruhi rasa kita dalam perkara kesenian itu. Yang kami maksudkan ialah misalnya rasa keusilaan kita (moreel atau etis) rasa keagamaan kita, pendek kata rasa batin kita masing-masing.

 

Kesenian dan Kesusilaan adalah Ketertiban

 

Untuk dapat mengerti segara apa yang tersebut dimuka tadi, (yakni bergabungnya rasa keindahan dengan rasa batin kita) perlulah diketahui, bahwa baik rasa aesthetis maupun etis, kedua-duanya mempunyai dasar yang sama.

Dengan segala “keindahan” dan “kesusilaan” sebenarnya tidak lain daripada “ketertiban” (tata yang seimbang atau harmonis). Dalam pada itu kesenian adalah keindahan yang berdasarkan ketertiban lahir, sedangkan kesusilaan berdasarkan ketertiban batin.

Inilah sebabnya kita sering melihat adanya “kesenian” yang dalam psikologi disebut “correlatie” (bersama-sama ada) antara rasa “kesusilaan” dan rasa “kesenian” di dalam jiwanya satu orang.

Itulah sebabnya pula sering kali kita lihat, bahwa orang yang sungguh-sungguh orang seniman (tidak hanya lagaknya saja) ia adalah orang yang berwatak jujur, berbudi kemanusiaan, bertabiat revolusioner, kurang memelihara dirinya sendiri, kerap kali mempunyai corak aneh, tak mengerti harganya uang atau benda dan sebagainya. Apakah gerangan yang menyebabkan? Tidak lain karena jiwa seorang seniman yang sejati itu biasanya hanya takluk kepada Tuhan atau pengaruh alam yang tertinggi. Acap kali ia adalah seorang “individualis” yang tak suka ditaklukkan oleh syarat-syarat ketertiban yang berasal dari orang-orang lain. Ia tolak segara peraturan atau kebiasaan yang bertentangan dengan alam dari zamannya. Ia tolak segala adat yang mati atau tak ada gunanya lagi.

Barang tentu pendirian batin yang sedemikian itu dapat menguntungkan, dapat juga merugikan kepadanya, ini bergantung kepada keadaan atau masanya.

 

Bedanya Kesenian Barat dan Timur

 

Berhubung itu pula, kita dapat mengerti adanya perbedaan biasanya antara orang “Barat” dan “Timur” dalam mereka menghargai kesenian. Orang Barat umumnya bangsa “intellect,” sedangkan orang Timur umumnya ada sebaliknya. Orang Timur mengutamakan soal-soal perasaan biasanya lebih dari soal pikiran. Itulah sebabnya orang Barat sering kali lebih mengutamakan “pepaknya” bagian-bagian (yang oleh mereka disebut “verscheidenheid”) daripada “harmonienya,” sedangkan orang Timur biasanya paling menghargai “patutnya” dan biasanya iakurang menghargai dan sering kali mengabaikan “pepaknya.”

Lebih baik dan lebih dekat dengan kenyataannya agaknya, kalau dalam soal ini kita tidak memakai sebutan “orang Barat” atau orang “Timur, ” namun menamakan mereka itu orang-orang “berjiwa perasaan” atau “berjiwa akal,” karena banyak sebenarnya orang Timur yang berbudi “akli” (akal), yakni mempunyai sifat “intellectualis” banyak pula orang “Barat” yang “berjiwa rasa” (gevoelsmens).

Dengan keterangan ini, dapatlah kiranya kita dengan mudah mengerti, apakah sebabnya banyak orang Eropa menganggap gending-gending Jawa itu serba “eentonig” atau “cemplang.” Tidak lain kira saya hal ini disebabkan karena musik Jawa hanya mempunyai lima suara. Lain daripada itu orang barat (atau orang yang “berbudi-akli”) biasanya kurang atau tidak dapat merasakan “iramanya,” yakni “harmonienya” ikatan-ikatan suara yang ada di dalam lagu-lagu dan gending Jawa. Sebaliknya dalam pada itu bagi orang Timur atau orang yang “berjiwa-rasa,” suaranya lagu itu dianggap hanya barang “lahir” belaka, yakni jasmaninya lagu, sedangkan iramanya itulah yang oleh mereka dianggap “rohnya” lagu.

 

Kesenian-Kesenian dalam Hidup Bangsa Kita

 

Kesenian itu berjenis-jenis bentuknya. Yang ada atau pernah ada di dalam hidup kebangsaan kita yaitu:

  1. Kesenian corak;
  2. Kesenian warna (sungging);
  3. Kesenian lukis yaitu kumpulan a dan b;
  4. Kesenian bangunan-bangunan (mewujudkan barang-barang bouwkunst);
  5. Kesenian pahat (mewujudkan sifat manusia, beeldhouwkunst, plastik);
  6. Kesenian kata atau bicara (retorika);
  7. Kesenian sastra (literatur);
  8. Kesenian suara (musik);
  9. Kesenian tari (dankunst);
  10. Kesenian sandiwara (kumpulan e, f, g, h dan i, drama);
  11. Dan kesenian lain-lainnya, yang sebenarnya boleh kita masukkan ke dalam salah satunya.

Dalam semua sifat kesenian itu selalu nampak dasar ketertiban yang dapat mewujudkan keindahan. Memang ketertiban dan keindahan itulah sifatnya kesenian.

Seni itu adalah sebagian dari kebudayaan atau Kultur (yakni buah budinya manusia) dan oleh karenanya senantiasa sesuai dengan budinya manusia yang menciptakannya. Demikianlah “seni kebangsaan” sesuai pula dengan roh dari bangsa yang mempunyai seni itu. Hal ini dapat dinyatakan, kalau kita membanding-bandingkan kesenian lukis atau musik dari bangsa-bangsa Belanda, Italia, Spanyol, Jerman, Inggris, Rusia, dll. Sekalipun dari satu-satunya bangsa, sering kali nampak juga ada bedanya. Misalnya antara schilderij atau musik Belanda zaman sekarang dibandingkan dengan zaman abad-abad pertengahan, middeleewen, dapat terlihat adanya perbedaan-perbedaan kecil. Namun dalam pada itu, garis-garis pokoknya atau dasar-dasarnya masih nampak tetap, sebab hidup sesuatu bangsa itu tentu tidak meninggalkan “continuiteit” (bersambung terusan) dari kebudayaannya. Apabila pandangan ini kami tarik ke dalam pemandangan tentang kemajuan hidup bangsa kita sendiri, maka dengan sendirilah kita dapat memberi ramalan sebagai yang berikut.

 

Kesenian Indonesia

 

Kesenian bangsa Indonesia kini belum ada; yang ada hanya kesenian-kesenian daerah (Jawa, Bali, Minangkabau, dll). Sekarang sesudah bangsa Indonesia sungguh-sungguh menjadi satu bangsa yang utuh, maka dengan sendirinyalah kebudayaan nasional akan berwujud. Juga kesenian nasionalnya. Adapun bentuknya seni Indonesia pastilah akan bersifat baru, namun tidak akan meninggalkan dasar-dasarnya kebudayaan dan kesenian dari berbagai-bagai daerahnya di seluruh kepulauan Indonesian; kesenian Indonesia akan terbentuk dengan memakai atau menggunakan segala puncak-puncak kesenian (hoogtepunten) dari kesenian-kesenian daerahnya. Puncak-puncak ini adalah modal pertama yang nantinya akan diperkaya dengan ciptaan-ciptaan baru, yang barang tentu tak akan dapat menghindarkan pengaruh-pengaruh dari kesenian-kesenian bangsa asing, yang kuat dan bernilai dan patut kita terima.

Sungguhpun mungkin masih akan lama dapat bersatunya kesenian-kesenian tadi, namun pastilah makin lama makin berdekatanlah kesenian-kesenian tadi. Adanya hubungan modern (kereta api, kapal laut, kapal terbang, pos dan radio, harian-harian dan majalah-majalah disamping hasrat rakyat kita untuk bersatu), tak boleh tidak akan mempercepat berwujudnya kesatuan kesenian bangsa kita.

 


Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (1899-1959) adalah pendiri Perguruan Taman Siswa tahun 1922 di Yogyakarta, salah satu tonggak yang amat penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Di masa mudanya, Ki Hadjar sempat menjadi wartawan dan banyak menulis artikel-artikel anti-kolonial. Ki Hadjar menaruh perhatian khusus terhadap bentuk seni tradisi dan memiliki pandangan yang dapat dikatakan progresif mengenai perpaduan seni tradisi dan ilmu/seni dari Barat. Beliau juga menetapkan beberapa cabang seni sebagai mata pelajaran pada kurikulum pendidikan dasar pasca kemerdekaan. Pada kabinet pertama Republik Indonesia, beliau menjabat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan untuk masyarakat yang lebih luas, pada era kepemimpinan Soekarno ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional.