ISSUE: #SENIRUPADEDEDE | Bincang Sore Mengenai Apresiasi Seni Rupa Akhir – Akhir Ini

posted in: ISSUE, PROGRAMS | 0

PL3-SeniRupaDedeDede-02

#SENIRUPADEDEDE
Bincang Sore Mengenai Apresiasi Seni Rupa Akhir – Akhir Ini
Jumat, 9 September 2016
15.00 – 17.30 WIB

Pembicara:

  • Rifadi Priyatna (Kurator)
  • Syaiful Aulia Garibaldi (Perupa)
  • Wibi Triadi (Galeris, Galeri Gerilya)

Dalam 2 tahun terakhir terjadi sebuah fenomena menarik pada perhelatan seni rupa yang ada di kota besar. Pasalnya, semenjak kehadiran media sosial antusiasme sebagian besar remaja kian meningkat dalam mengunjungi beragam pameran seni rupa yang ada di kota besar.

Jika dibandingkan 5-10 tahun yang lalu, berbagai pameran yang diselenggarakan masih di dominasi kalangan praktisi seni itu sendiri. Kini keadaan sangat berbeda dimana ruang pamer dipenuhi pengunjung secara umum ; pegawai kantoran, mahasiswa, serta yang paling banyak adalah dari kalangan pelajar SLTP dan SMU. Termotivasi oleh sosok sohor (selebritas) dalam bersinggungan dengan apresiasi, karya dan pelaku seni rupa, maka saat ini mengunjungi pameran merupakan sebuah keharusan untuk memenuhi eksistensi seseorang baik dalam dunia nyata maupun secara virtual. Di tengah antusiasme yang meningkat, timbul beragam persoalan atas cara mengapresiasi karya seni yang dipamerkan.

Bincang sore kali ini akan membahas perihal antusiasme apresiasi karya seni rupa yang mem-booming akhir-akhir ini di beberapa kota besar. Dengan mengundang tiga pembicara, Platform3 ingin mengetengahkan topik tersebut dari sudut pandang praktisi seni. Bagaimana ketiga pembicara tersebut akan memaparkan pengalaman dan pendapatnya terhadap fenomena apresiasi karya seni di era Instagram, bagaimana manfaat maupun kerugian dari fenomena tersebut? Serta bagaimana seharusnya institusi seni rupa membijaki fenomena tersebut? Kami mengharapkan kehadiran Anda sekalian untuk hadir pada acara ini. Sampai jumpa!

Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum.


Catatan Diskusi 

 

Berawal dari sebuah sore ketika kami sedang berbincang santai, salah satu dari kami – entah sengaja atau tidak – memutar sebuah video di situs Youtube. Video tersebut memaparkan montase pose beberapa orang anak muda dengan berlatar karya-karya seni di sebuah galeri di Jakarta. Tidak ada narasi spesifik dari video tersebut, namun yang mencuri perhatian kami adalah bagaimana sosok-sosok di dalamnya berinteraksi dengan karya yang menjadi properti. Entah lewat persetujuan galeri maupun senimannya atau tidak, sosok-sosok di dalam video tersebut berinteraksi secara cukup “akrab” dengan karya-karya di dalamnya. Jarak fisik antara sosok di dalam video dengan karya yang terpajang relatif dekat dan bahkan ada beberapa karya yang tersentuh dengan sengaja.

 

Di lain waktu, ketika kami berbincang dengan kawan-kawan pelaku seni – baik seniman, kurator maupun pemilik/pengurus galeri – mengenai aneka perilaku pengunjung dan responnya terhadap ruang pamer maupun karya-karya yang terpajang. Setelah itu, kami memutuskan untuk mengundang narasumber dan hadirin untuk berbincang santai seputar fenomena apresiasi karya seni pada anak muda di kota besar di Indonesia di era sosial media ini.

 

Narasumber pertama kami adalah perupa Syaiful Aulia Garibaldi. Kami beruntung sekali karena ternyata Syaiful telah melakukan riset santai mengenai fenomena ini dengan menelusuri tagar-tagar yang berhubungan dengan seni rupa Indonesia di sosial media Instagram yang memang sedang marak sebagai media “eksistensi”. Selain itu, Syaiful juga membaca perubahan kecenderungan ragam pengunjung pameran seni rupa, khususnya di Bandung dan Jakarta. Sebelum 2013, pengunjung pameran seni rupa kebanyakan pelajar SMU yang tertarik dengan seni rupa, mahasiswa (yang mungkin mahasiswa seni rupa juga), teman dari yang berpameran, segelintir pecinta seni atau kolektor/pembeli potensial. Setelah 2013, jumlah pengunjung yang lebih beragam dan juga lebih muda melesat cukup tajam.

 

Syaiful juga membaca beberapa jenis kecenderungan cara mengambil swafoto (selfie) di depan karya pada tagar-tagar tersebut. Sebagai perupa, Syaiful segera melihat kecenderungan pemilihan karya yang beralih fungsi menjadi latar foto. Singkatnya, “bikin yang besar aja, pasti bagus buat selfie“.

 

Wibi Triadi selaku pemilik dan pengelola ruang alternatif Galeri Gerilya menyadari bahwa dengan meningkatnya pengunjung, maka bervariasi pula cara publik menyikapi karya seni dalam ruang pamer. Ia menunjukkan sebuah contoh yang terekam dalam sebuah video di situs Youtube. Beberapa remaja membuat montase diri mereka di depan karya instalasi pada sebuah galeri komersil di Jakarta dengan aneka gaya, tak luput melibatkan interaksi langsung dengan karya-karyanya. Nyatanya, video ini sama sekali tidak mencantumkan kredit bagi perupa karya-karya tersebut (video ini ternyata adalah video yang kami sebutkan di awal tulisan ini).

 

Setelah beberapa pemaparan contoh apresiasi unik dari pengunjung terhadap karya, Rifandy Priatna melihat bahwa peningkatan apresiasi bisa mengindikasikan kesiapan tempat untuk terbuka terhadap publik. Kehadiran pengunjung remaja memang bukan satu-satunya tolok ukur dalam melihat kesuksesan sebuah acara, namun antisipasi yang baik terhadap kehadiran mereka merupakan gestur positif untuk semakin membuka interaksi ruang seni dengan publik. Rifandy menyebutkan sebuah contoh galeri di Jakarta dalam mengantisipasi pengunjung. Ketika galeri tersebut menemukan bahwa pengunjung-pengunjung lebih muda menjadikan ruang pamer sebagai latar belakang foto OOTD (outfit of the day), maka ketika segerombol pengunjung muda datang, pihak galeri menawarkan tur keliling ruang pamer. Dengan cara ini diharapkan pengunjung mendapat lebih banyak informasi, wawasan dan peningkatan minat terhadap seniman dan karya-karyanya.

 

Tanggapan pengunjung yang paling menarik mungkin berasal dari Asmujo Jono Irianto, seorang kurator. Melihat fenomena ini, beliau yang cukup malang melintang di medan sosial seni rupa kontemporer Indonesia mencoba mengingatkan kembali urgensi dari memandang fenomena #senirupadededede tersebut. Beliau mempertanyakan seberapa signifikan pengaruh peningkatan pengunjung ini terhadap tingkat apresiasi dan peningkatan penjualan.

Rifandy menanggapi bahwa terdapat contoh kasus pada beberapa galeri di Jakarta, karya-karya yang tergolong affordable mendapat minat dan dikoleksi oleh pengunjung-pengunjung yang relatif baru. Hal ini cukup menjadi sebuah angin segar untuk mengembangkan pasar seni rupa lokal. Bahkan dalam beberapa kasus, walaupun pengunjung masih duduk di bangku sekolah membawa orang tuanya dan berakhir dengan pembelian karya-karya affordable. 

 

Lebih lanjut lagi, Asmujo melihat bahwa galeri maupun praktisi seni lainnya harus memperhatikan dan merespon bagaimana potensi fenomena ini sebenarnya. Apabila galeri dapat memupuk dan mengolah ketertarikan yang awalnya mungkin hanya tren atau fashion, maka bukan tidak mungkin akan menciptakan generasi baru apresiator dan kolektor Indonesia. Beliau menekankan posisi galeri dan para praktisi seni lainnya sebagai penentu kesepakatan sosial dalam mengarahkan pandangan masyarakat terhadap seni rupa kontemporer.

 

 

Pada akhirnya, fenomena ini tidak lain adalah sebuah cermin yang meninggalkan pekerjaan rumah bagi para pelaku seni, baik seniman, kurator, pemilik dan pengelola galeri dan instrumen lainnya. Dalam kondisi medan sosial seni rupa kontemporer Indonesia yang tidak memiliki infrastruktur cukup lengkap, bagaimanakah peran para pelaku seni ini dalam mengembangkan wawasan penikmat seni, baik yang memang sudah memiliki latar belakang ketertarikan dalam seni maupun yang baru memulai?