ISSUE | GERAKGERIK: Peran & Kedudukan Performance Art Tudei

posted in: ISSUE, PROGRAMS | 0

GERAK GERIK:

Peran dan Kedudukan Performance Art Tudei

Pengantar oleh Heru Hikayat

 

Dalam diskusi panel ini, para panelis diminta untuk memaparkan karya performance yang pernah ia presentasikan, sambil juga memaparkan ide-ide tentang karya performance yang sedang diproses. Diskusi mengenai apa yang telah dilakukan dengan apa yang sedang dipikirkan untuk dilakukan, dibayangkan sebagai cara untuk menelusuri strategi pelaku dalam menekuni performance art.

Performance Art adalah genre yang selalu kritis. Kritis, dalam hal ini berarti genting. Setiap kali seorang seniman performance mempresentasikan karyanya, sebenarnya ia sedang merumuskan ulang genre itu sendiri.

Zaman berubah, kebudayaan pun turut berubah bersama zaman. Pada era Orde Baru, performance art turut bergerak bersama gerakan kritis menentang rezim otoriter. Pada saat itu, misalnya, sebab suara kritis jika dinyatakan secara lugas berisiko pada pemenjaraan dan penghilangan paksa si penuturnya, maka performance art menjadi cara untuk mengajukan protes secara unik. Barikade militer dilawan dengan aksi mandi di jalan.

Bung Karno hidup di era radio. Ia memang orator ulung. Selain, mengajak warga untuk keluar rumah menghadiri rapat umum di tempat terbuka, Bung Karno menyebarkan suaranya ke seluruh penjuru Nusantara lewat radio. Rezim Soeharto hidup di era tivi. Televisi dimonopoli negara. Media massa dikendalikan ketat. Kegiatan pertemuan di tempat umum dibatasi. Berakhirnya era Orde Baru, didahului oleh krisis moneter dan penyebaran teknologi internet, diikuti dengan euphoria kebebasan berpendapat dan keranjingan pada media baru. Kini kita melihat, misalnya, di satu sisi korporasi media terus berupaya meraih konsumen dengan berbagai cara sambil kadang ia tak bisa menyembunyikan kepentingan para pemiliknya, di sisi lain media sosial memungkinkan seseorang entah siapa, direspon orang banyak untuk sesuatu alasan yang kadang sangat penting, sangat paling elementer.

Konon kesamaan seniman dengan aktivis adalah kebutuhan untuk merumuskan cara menantang bahasa yang sudah mapan. Tanpa kemampuan ini, maka karya seni hanya akan jadi parade gubahan yang medioker dan banal. Ada masanya, arak-arakan mengusung keranda dengan teks “demokrasi” menjadi cara jitu mengungkapkan matinya demokrasi. Namun dalam waktu tidak terlalu lama, cara ini menjadi biasa dan terlalu repetitive.

Kira-kira apa pengaruh perubahan zaman pada cara kita memandang performance art? Aksi ibu-ibu dari Kendeng, mengecor kaki mereka dengan semen, di depan istana presiden, demi memrotes kebijakan pembangunan pabrik semen, apakah ini performance sebenarnya? Karena mereka harus “bersaing” dengan aksi pamer bokong Nikita Mirzani di media sosial untuk meraih simpati publik? Karena mereka tidak bisa hanya mengandalkan jalur legal-formal untuk menyuarakan keterancaman mereka? Karena aksi membebat kaki dengan semen di hadapan istana paduka yang mulia presiden, adalah cara mereka untuk mengungkapkan, nasib mereka adalah juga nasib kita semua?

Di atas adalah sebagian kecil dari pertanyaan yang melatari perancangan diskusi panel ini. para panelis adalah performer muda yang bersedia mempresentasikan karya mereka dan mendiskusikan peran serta kedudukan performance art hari-hari ini. Pembicara utama adalah penanggap yang akan mengelaborasi hal-ihwal performance art dalam hubungannya dengan perubahan zaman, dinamika budaya, dan barangkali juga, hubungan antarbangsa.

Semoga diskusi ini bermanfaat bagi kita semua.

 

Salam,

Heru Hikayat

 

Arahmaiani

Sebagai sosok terkemuka dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia, Arahmaiani banyak berkarya lewat performance, drawing, instalasi, melukis, video, puisi, tari dan musik. Ia adalah salah satu dari seniman Indonesia yang tampil pada Venice Biennale ke-50. Karyanya banyak mengutarakan pandangannya terhada situasi politik, kekerasan, kritik terhadap kapital, tubuh perempuan, dan dalam beberapa tahun terakhir ini, mengenai identitasnya sendiri; sebagai seorang Muslim, ia kerap memediasikan berbagai kepercayaan seperti Islam, Hindu, Budha dan animisme. Arahmaiani banyak memanfaatkan kehadirannya di publik untuk mengarahkan kepada isu kekerasan, terutama kekerasan atau diskriminasi wanita pada masyarakat Islam di Indonesia. Sejak peristiwa 11 September, ia melaburkan pandangan kritisnya terhadap Islam sekaligus melawan stigma-stigma terhadap Islam. Sejak 2010 hingga kini, ia juga bekerja dengan para biksu di Dataran Tinggi Tibet untuk isu lingkungan.

 

Angga Wedhaswhara

Anggawedhaswhara lahir di Bandung dan Ia adalah seorang seniman performance art yang telah aktif tergabung dalam lingkaran performance art Bandung-Indonesia sejak 1998. Ia juga terlibat dalam Teater Ah Bandung dan Bandung Performance Art Community. Karya-karyanya membahas tentang berbagai macam isu mengenai lingkungan, kesehatan, dan sosial-politik. Angga meraih gelar di bidang pertanian dari Universitas Padjadjaran. Ia telah tampil di berbagai acara dan festival performance art di Indonesia dan Malaysia.

 

Fransisca Retno

Fransisca Retno adalah seorang pengajar desain komunikasi visual yang aktif berkesenian khususnya medium seni performa. Setelah melanjutkan ke prodi magister seni rupa ITB dia kemudian memutuskan untuk lebih banyak berkecimpung di disiplin ilmu seni performa dan mengambil medium tersebut sebagai kajian tugas akhirnya.

Sejak tahun 2012 sudah berpartisipasi ke dalam beberapa acara performance art seperti presentasi seni tunggal di GIM, workshop bersama Lee Wen, workshop ‘Teks dan Tindakan’ bersama Melati Suryodarmo, pameran Exi(s)t #4, Undisclosed Territory #9, Bazaar Art 2016

Saat ini Fransisca tengah fokus mengkaji mengenai perkembangan seni performa di Indonesia dengan membentuk inisiatif bernama Performance Lab, disamping mengelola mata kuliah Experimental Arts di kampus Universitas Multimedia Nusantara tempatnya bekerja dan juga tengah mempersiapkan beberapa projek seni performa di Jakarta.

 

Dian F. Iqbal

Sebagai seorang psikolog, mengedepankan cara kerja fenomenologi dan eksistensial dalam menangani berbagai pekerjaan, termasuk hidupnya sendiri. Melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan teater, tari, musik rupa, dan terapi seni serta komunitas di Bandung. Menekuni body movement therapy bersama para rekan dan sahabatnya dan terlibat pada kerja-kerja kerelawanan di beberapa daerah bencana, rawan bencana dan paska bencana. Senang diajak bicara dan berbagi tentang berbagai hal, tapi hindarilah ketika dia baru bangun. Dia terlalu asing bahkan terhadap dirinya sendiri.

 

Riar Rizaldi

Riar Rizaldi adalah seorang seniman yang memanfaatkan media dan teknologi dalam kekaryaannya. Ketertarikannya kepada arkeologi media, network, hubungan antara teknologi dan manusia, tubuh dan data, dan fenomena global akan dampak teknologi membuatnya sering bekerja dalam ruang lingkup interdispliner – atau bahkan post-displiner. Riar mendapatkan hibah beasiswa Newcastle Insitute of Creative Art Practice Awards pada 2015-2016. Karya-karya Riar telah dipresentasikan di beberapa festival internasional seperti Kuala Lumpur Experimental, Film, Video & Music Festival 2016, Art in The City Festival Shanghai 2016, Asian Meeting Festival Tokyo-Kyoto 2015, Festival B:OM Seoul 2015, Bangkok Underground Film Festival 2017 dan Lausanne Underground Film & Music Festival 2014. Bersama Haikal Azizi, Duto Hardono, dan Bob Edrian, Riar adalah co-founder Salon, sebuah kolektif yang mewadahi dan mengeksplorasi musik eksperimental dan improvisasi di Kota Bandung. Kekaryaan Riar dapat disimak di laman www.rizaldiriar.com.

 

Aliansyah Caniago

Berbasis di Bandung, Aliansyah Caniago (lahir 1987) -atau Alin- melahirkan karya-karya lewat intervensi ruang, instalasi dan performans durasional. Ia tertarik dengan metode bekerja sama secara langsung dengan komunitas dan mengembangkan karya yang dapat menyatu dengan masyarakat, hadir secara kreatif dalam area-area konflik dan responsif terhadap isu-isu kerusakan lingkungan.

Alin berpartisipasi dalam banyak pameran serta acara-acara performance art baik dalam lingkup lokal, nasional maupun internasional. Penghargaan yang telah diraih diantaranya adalah pemenang Bandung Contemporary Art Award 2015, Top Honor of Indonesian Art Awards 2015 dan Finalist of Bazaar Art Award 2011. Ia juga adalah pendiri dari Ruang Gerilya, ruang kolektif seniman berbasis Bandung yang berfokus pada karya-karya eksperimental. proses dan riset seniman. Di tahun 2016, Alin menciptakan sebuah performans durasional di ruang publik yang mempertanyakan relevansi Kesultanan terhadap isu kepemilikan lahan antara masyarakat tradisional dan modern di kota Yogyakarta.

Panji Sisdianto

Pria yang cukup banyak menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan. Tercatat sebagai anggota seumur hidup dari Bikers Brotherhood MC, merupakan salah satu pendiri Pijar – Komunitas Menempa Indonesia, anggota Forum Bisnis Itb – Jabar, terlibat juga dalam pergerakan sosial #bandungtidaktakut, selain itu tergabung dalam lembaga riset wacana.co, dan kadang terlibat dalam kegiatan tradisional di Bumi Dega Sunda Academy. Profesi yang dikerjakan pun beragam, misalnya sempat menjadi seorang jewelry designer, tattoo artist & supplier, event organizer, interior & landscape designer, bisnis kulinari, sampai pernah juga menjadi asisten staff khusus Kemenpora. Keberagaman pengalamannya ini tak lepas dari gairah eksploratifnya yang pernah terbangun di kampus seni rupa. Selain mendalami silat, pengalaman estetisnya di kampus itu telah membuatnya menaruh minat kepada konsep tubuh dan performance art. Perhatiannya terhadap kajian filsafat Timur diantaranya Siwa, Buddhis, dan Sundayana telah menyelisipkan ruh tersendiri bagi bentuk karya seninya.

Riyadhus Shalihin

Menempuh Studi jurnalistik dan fotografi, di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung, dan menamatkan Program Studi penyutradaraan, di Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Mengikuti Extension Course Filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, ‘Filsafat Seni : Tinjauan Kontemporer’ (2012), ‘Kebudayaan dan Keseharian (2013)’, dan ‘Kebudayaan Kontemporer (2014)’. Sejak tahun 2010, tertarik dengan isu-isu penumpukan, gejala keseharian, dan simptom domestik dalam kekaryaan Performance Art. Pada 2016 membentuk BPAF (Bandung Performing Arts Forum) dalam bidang seni pertunjukan kontemporer dan KURR CLUB Artist Colective yang lebih mendorong terhadap penciptaan dan kajian seni visual, terutama performance art. Pada 2012 mengikuti residensi seni perrtunjukan interdisiplin atas undangan dari Asean Design Theatre, di Central Cultural Of Phillipines, Manila Phillipina, berguru pada Melati Suryodarmo di beberapa kegiatan/pelatihan performance art seperti : Workshop ‘Teks dan Tindakan’ di Galeri Soemardja FSRD ITB (2015), mentoring performance art, Melati Suryodarmo, di Nuart Sculpture Park, Bandung (2015), Lokakarya ‘Daya Hadir dan Ketubuhan’ , di Studio Nan Jombang, Padang Panjang, Art Summit Indonesia (2016), juga pada Jason Lim melalui lokakarya Performance Art, di Studio Plesungan, Mojosongo, Surakarta, pada kegiatan Undisclosed Territory 10 (2017).

 

Angga Wedhaswhara

Anggawedhaswhara lahir di Bandung dan Ia adalah seorang seniman performance art yang telah aktif tergabung dalam lingkaran performance art Bandung-Indonesia sejak 1998. Ia juga terlibat dalam Teater Ah Bandung dan Bandung Performance Art Community. Karya-karyanya membahas tentang berbagai macam isu mengenai lingkungan, kesehatan, dan sosial-politik. Angga meraih gelar di bidang pertanian dari Universitas Padjadjaran. Ia telah tampil di berbagai acara dan festival performance art di Indonesia dan Malaysia.