ALLUSION SEBAGAI PERANGKAT SENI MODERN

Dirdho Adithyo


"Good artists copy, great artists steal"

- Pablo Picasso

 
 

Makna Allusion dalam Bahasa dan Seni

 
Dalam kesenian ada berbagai perangkat yang biasa digunakan untuk menyampaikan pesan, dan beberapa diantaranya adalah ironi, alegori, defamiliarisasi, rujukan (allusion). Artikel ini hanya akan membahas mengenai rujukan atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah allusion. Kerap kali allusion diterjemahkan begitu saja menjadi alusi dan mereka yang tidak ingin menggunakan kata serapan menggunakan "rujukan" atau "acuan" sebagai padanan dari kata tersebut. Pencarian dalam Kamus bahasa Inggris-Indonesia menunjukkan allusion sebagai kiasan, sindiran dan ibarat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat arti kiasan sebagai "pertimbangan tentang suatu hal dengan perbandingan atau persamaan dengan hal yang lain." Atau juga bisa berarti "perumpamaan atau ibarat" dan juga sekaligus "lambang," "sindiran," dan juga "pelajaran (dari suatu cerita dan sebagainya)." Salah satu makna yang dekat dengan keperluan kita ini adalah sindiran atau mungkin pelajaran yang dapat ditarik dari suatu cerita. Itu pun masih perlu penalaran lebih lanjut. Kita perlu menemukan definisi, dan oleh karena itu, padanan yang lebih ratah lagi untuk dapat memaknai istilah tersebut sehingga dengan nyaman kita bisa menunjuknya ketika kita melihatnya.

Sebetulnya allusion sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi alusio dan alusio adalah majas. Majas tersebut, sama seperti majas perbandingan pada umumnya, berfungsi memberikan pertimbangan suatu hal dengan perbandingan atau persamaan dengan hal lain. Pertimbangan itu diberikan lewat rujukan atau acuan. Sebagai contoh, dalam kalimat, kita sering menemukan orang berkata "Ia berlaku seperti Malin Kundang." Malin Kundang dalam kalimat itu merupakan sebuah rujukan, semacam undangan bagi pendengarnya untuk ikut membayangkan situasi Malin Kundang, situasi anak durhaka yang akhirnya dikutuk menjadi batu.

Begitulah cara majas alusio bekerja. Ia memberikan perbandingan kepada subjek kalimat itu dengan tokoh legenda. Majas alusio tidak hanya terbatas pada legenda dan mitos saja, namun, boleh saja keluar dari kerangka itu. Oleh sebab itu, majas alusio terbagi menjadi dua dalam rujukannya. Yang pertama adalah rujukan internal dan yang kedua rujukan eksternal. Rujukan internal terjadi apabila yang dirujuk berada di dalam praktik yang bersangkutan. Contoh kalimat di muka adalah contoh rujukan internal sebab ia merujuk kepada legenda.

Sebaliknya, rujukan eksternal mengarah kepada hal-hal di luar praktik yang bersangkutan. Ketika kita mendengar orang berkata "Ini pelanggaran HAM yang lebih sadis dari Suharto," serentak kita paham bahwa orang itu berusaha menggambarkan peristiwa dengan rezim Suharto yang pada praktiknya banyak melanggar hak asasi manusia. Contoh yang demikian menjadi rujukan eksternal karena ia mengacu kepada kejadian faktual sebagai perbandingan untuk menyampaikan nuansa peritiwa yang bersangkutan, peristiwa yang menjadi subjek pernyataan itu.

Perlu dijelaskan pula batasan "praktik yang bersangkutan." Yang dimaksud dengan praktik yang bersangkutan akan lebih mudah dipahami dalam kerangka seni. Apabila sebuah karya sastra merujuk kepada karya sastra lain, maka ia merujuk kepada praktik yangbersangkutan, praktiknya sendiri, praktik seni. Begitu juga ketika sebuah lukisan merujuk kepada karya sastra, atau karya patung, dst, maka ia merujuk ke dalam praktik kesenian, dan oleh sebab itu, praktik yang bersangkutan. Di luar itu dengan sendirinya yang tersisa adalah rujukan eksternal, rujukan yang mengacu pada kejadian faktual, bukan kejadian dalam praktik yang bersangkutan, atau praktik seni.

Saya rasa perlu ada perbedaan antara rujukan dan majas alusio untuk menjadi lebih dedah. Seorang pelukis, misalnya, bisa saja memiliki karya yang merujuk kepada imajinasinya. Dengan demikian, karya tersebut memang memiliki rujukan. Akan tetapi, tidak berarti pelukis tersebut sedang mempraktikkan majas alusio. Untuk keperluan seni, saya mengusulkan untuk menggunakan kata meminjuk yang merupakan gabungan antara meminjam dan merujuk sebagai padanan kata allusion. Kata dasarnya adalah pinjuk sehingga menjadikan dipinjuk sebagai kata sifat dan pinjukan kata benda.

Pinjuk memang terdengar tidak enak atau kurang sastrawi, tapi, siapa tahu nanti akan ada perbaikan di masa depan. Perbaikan itu tidak harus datang dari saya, yang penting apa yang ingin saya sampaikan sekarang bisa diterima dengan baik oleh pembaca. Saya rasa, untuk keperluan pembedaan antara rujukan dan alusio, kata tersebut sekarang cukup memadai. Kalau-kalau ada pembaca yang kurang setuju, silakan cari padanan yang lebih menarik, karena saya sadar betul bahwa pinjuk itu lebih terdengar seperti makanan ketimbang sebuah istilah sastra atau seni.

Jangan lekas dikira bahwa pinjukan itu sama dengan hubungan-antar-teks (intertextuality). Memang, pinjukan boleh dikatakan sebagai bagian dari hubungan-antar-teks, tetapi, apabila pinjukan hanya menggunakan bantuan eksternal atau internal sebagai sarana penyampai maksud, hubungan-antar-teks lebih merupakan kerangka bagi pembaca untuk dapat memahami apa yang sedang dicerap.1

Sebagai misal, seorang pengunjung pameran memahami lukisan Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, dengan menggunakan pengetahuan yang pernah diajarkan oleh guru sejarahnya di sekolah dasar. Pelajaran sejarah, dalam kasus lukisan Raden Saleh, menjadi kerangka pemahaman lukisan yang sedang diamati oleh pengunjung pameran itu; cermin pengetahuan yang dengan bantuannya pengetahuan dapat diperbandingkan.

Raden Saleh sama sekali tidak meminjuk buku pelajaran sejarah sekolah dasar ketika melukis Penangkapan Pangeran Diponegoro. Buku itu bahkan belum ditemukan ketika Raden Saleh melukis gambar tersebut. Raden Saleh merujuk kepada kejadian nyata ketika Pangeran Diponegoro ditangkap. Kejadian sejarah itu yang kemudian masuk ke dalam materi buku pelajaran sejarah sekolah dasar dan akhirnya isi buku tersebut digunakan untuk mencerna apa yang sedang diamati. Dalam kata lain, dibutuhkan buku sejarah agar orang tersebut dapat mencerap lukisan tersebut; teks membutuhkan teks lain.

 

Praktik Alusio dalam Kesenian

 
Seni sering kali menggunakan pinjukan untuk menyampaikan maksud dari karya- karya yang diciptakan. Seni dalam artikel ini dipahami tidak hanya sebatas seni rupa, tetapi juga seni tari, seni musik, sastra, dsb. Contohnya, T. S. Eliot, dalam karangannya yang berjudul The Waste Land, menggunakan banyak sekali pinjukan yang sama sekali tidak terbatas pada isi, tetapi juga terutama bentuknya. Dalam arti ini, Eliot berusaha menunjukkan bahwa dalam lingkup inilah sastra modern seharusnya bekerja.

Mahendra Yasa, seorang perupa dari Bali, berulang kali menggunakan metode ini dalam beberapa karyanya. Ia meminjuk van Gogh dalam lukisannya yang berjudul Family Tree 2, van Gogh Bouyeri, Piet Mondrian dalam karyanya Mondrian, Jackson Pollock dalam Acuan I, dan seterusnya. Dalam seni musik, contohnya saja adalah Luciano Berio dalam komposisinya yang berjudul Sinfonia I-V, dimana ia meminjuk, misalnya, Gustav Mahler dan Samuel Beckett dengan menggunakan kerangka dari Lévi-Strauss. Dari dunia seni tari atau seni rupa pertunjukan, Melati Suryodarmo meminjuk karya Shakespeare, Macbeth dalam karyanya yang berjudul, Tomorrow as Purposed.

 

Mahendra Yasa, Family Tree 2, van Gogh Bouyeri.
(Sumber: indoartnow.com)

 

Pinjukan harus dapat dibedakan juga dengan inspirasi. Inspirasi adalah ilham atau gagasan yang tercetus oleh peristiwa, objek atau hal-hal lain yang mungkin bisa menjadi sebuah gagasan. Seorang seniman boleh jadi tergagas oleh warna biru yang tersapu di atas kanvas lukisan Yves Klein, akan tetapi, karya akhir seniman tersebut bisa menyertakan beberapa elemen dari Yves Klein atau bahkan kita tak dapat melihat jejak inspirasi dari Yves Klein sama sekali.

Dalam kasus pinjukan, justru karya yang dipinjuk menjadi teramat penting, karena sering kali ia menjadi titik tolak untuk memahami apa yang berusaha disampaikan oleh sang seniman. Ia menjadi isi sekaligus bentuk dari karya yang dipertunjukkan. Memahami bahwa seorang seniman mendapat inspirasi dari Yves Klein memang penting bagi kita untuk menghargai karya tersebut, akan tetapi, hubungan antara karya sang seniman dan karya Yves Klein berhenti di situ.

Ketika kita mengetahui bahwa si seniman terinspirasi oleh Klein, kita pada akhirnya bisa mengatakan "mana Yves Kleinnya?" atau "karya itu kurang bisa menangkap Yves Klein sekali pun ia terinspirasi oleh Klein." Tanggapan semacam itu yang membuat pembedaan antara inspirasi dan pinjukan menjadi penting. Karena, pada akhirnya, pinjukan bukan merupakan inspirasi, sebabnya dalam kasus rujukan, kita bisa dan bahkan harus melihat serta paham bagian yang berusaha dirujuk dalam sebuah karya untuk bisa memahami pesan dari karya tersebut.

Lain dari pada itu, inspirasi bisa saja didapat tanpa sadar, dalam arti, seniman tidak menyadari bahwa sesuatu telah memberikannya inspirasi. Sedangkan, kita tahu, bahwa pinjukan harus dilakukan dengan sadar, karena pinjukan adalah bagian dari pesan yang ingin disampaikan. Oleh sebab itu, dalam inspirasi ketelurusan menjadi penting, sedangkan dalam rujukan, koherensilah yang menjadi patokan keberhasilan suatu karya.2

Demikianlah, epigraf yang saya tulis, sebuah kutipan dari Picasso yang kemungkinan tergagas oleh kata-kata yang dilontarkan oleh T.S. Eliot, harus dipahami. Sesuai dengan pemahaman Eliot bahwa sastra modern harus bekerja dalam bentuk-bentuk tersebut, maka dari itu, Picasso menggunakannya pula untuk kepentingan seni rupa. Seniman pencuri adalah seniman yang menggunakan karya-karya seniman lain, sama seperti Picasso yang seakan-akan mencuri, atau lebih tepatnya, meminjuk Eliot dengan melakukan sedikit perubahan. Dengan demikian, melalui Picasso, pinjukan menjadi juga batasan lingkup seni modern, dimana hanya didalamnya kegiatan seni menjadi mungkin.3

Picasso dalam karyanya Guernica, menggunakan alusio untuk merujuk kepada pengeboman kota Guernica dalam Perang Saudara Spanyol.

 

Guernica, Pablo Picasso. (Sumber: wikipedia.org)

 

Bandingkan dengan lukisan Mahendra Yasa, Family Tree 2, van Gogh Bouyeri. Selain lukisan tersebut memiliki objek kajian yang ada di alam nyata, Theo van Gogh dan Mohammed Bouyeri, tetapi ia juga meminjam sekaligus merujuk kepada teknik lukis van Gogh.4 Supaya kita bisa memahami lukisan Mahendra Yasa dalam keseluruhannya, maka kita perlu memiliki cakrawala pengetahuan spesifik sebagai latar belakang pemahaman kita akan karya tersebut. Mahendra Yasa menggunakan majas alusio eksternal dan internal dalam karya tersebut. Namun, penggunaan majas alusio dalam kesenian memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihannya, materi yang bisa diangkat dalam kesenian menjadi lebih beragam atau seniman bisa lebih mudah menyampaikan maksudnya dengan perumpamaan lain dengan membandingkan dan menyamakan. Sedangkan, kekurangannya, perangkat ini menuntut pemirsa sudah memiliki pengetahuan tertentu untuk membandingkan apa yang dirasakan oleh indera pencerapnya dengan wawasan yang sudah dimilikinya. Sebuah tuntutan yang cukup berat mengingat kondisi cakrawala pengetahuan Indonesia yang masih serba terbatas. Artinya, akhirnya seni yang menggunakan metode rujukan hanya bisa bermakna ketika ia dihadapkan dengan pemirsa dengan cakrawala yang luas.5

Teknik rujukan dapat juga digabungkan dengan teknik lainnya, misalnya dengan ironi. Semua itu tergantung kepada seniman untuk mengeksploitasi teknik-teknik yang ada untuk keperluan estetiknya dan/atau perupaannya. Misalnya, Mahendra Yasa menggunakan rujukan sekaligus ironi dalam kaitannya dengan pelukis Gerhard Richter. Ia ingin menunjukkan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Richter, menurut pandangannya, sudah menjadi jenuh. Ini ia coba sampaikan melalui karyanya Fuck Richter.

 

Alusio sebagai Metode dalam Kesenian Indonesia

 
Seperti yang bisa dilihat dari contoh yang diberikan di atas, rujukan tidak hanya terbatas pada kesenian barat. Penggunaan metode tersebut sah-sah saja dan rasanya tidak bisa dikatakan sebagai hegemoni barat, karena, tokh, rujukan adalah metode universal yang tidak kenal batasan geografis atau pun budaya. Akan tetapi, sebaik-baiknya metode tersebut dalam kesenian, metode tersebut memiliki kekurangan praktis, terutama yang berkaitan dengan pemirsa Indonesia.

Pemirsa Indonesia mungkin saja kekurangan wawasan pengetahuan untuk dapat memahami secara langsung pesan karya seni yang menggunakan metode rujukan. Terutama apabila rujukan yang diambil bukan berasal dari kebudayaan kita sendiri. Di luar negri sana, mungkin metode ini disambut dengan baik karena menunjukkan kekayaan sumber, atau, boleh jadi, kemiskinan materi kajian,6 dan para pemirsanya kurang lebih siap untuk mencerna apa yang dimaksud. Seorang komponis dari Prancis pernah menggubah sebuah karya yang menggunakan pertukaran surat cinta antara dua buruh penggilingan gandum di abad ke-13 sebagai rujukan.

Penggunaan rujukan sebagai metode saya kira baik. Akan tetapi, metode tersebut perlu disertai akan kesadaran bahwa seniman yang membuatnya adalah orang Indonesia, berdiri di atas tanah Indonesia, dan hidup dalam masyarakat Indonesia. Kesadaran tersebut akan membawa serta pula sensibilitas atau bahkan pemahaman akan masyarakat Indonesia yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu, baik kiranya apabila seniman-seniman tersebut, seniman yang ingin menggunakan metode rujukan, untuk mengambil hal-hal yang berkaitan erat dengan kebudayaan Indonesia sehingga dengan demikian karyanya akan lebih mendesak bagi kita.

Kalau nantinya di masa depan masyarakat Indonesia sudah bisa lebih memahami nilai-nilai abstrak universal yang menyusupi karya-karya dengan metode rujukan, bolehlah sayap tersebut dikembangkan. Saya juga tidak berbicara tentang wawasan pengetahuan kelas-kelas masyarakat tertentu; saya berbicara bahkan tentang wawasan beberapa kelompok masyarakat yang lebih beruntung, kelompok yang merasa bahwa budaya hanya merupakan milik kalangan atas atau kalangan mereka sendiri. Karena sifat dari rujukan itu sendiri, ia hanya bekerja dalam ruang lingkup kesenian, atau dalam beberapa kasus luas, mungkin budaya.

 



Catatan kaki: 

  1. Dinamika antara pinjukan dan hubungan-antar-teks lebih rumit daripada itu. Artikel ini tidak mampu menjelaskan hubungan-antar-teks dengan lebih terperinci karena keterbatasan ruang.
  2. Ketelusuran dalam proses inspirasi menjadi penting karena tanpa adanya ketelusuran bahaya plagiarisme atau menjiplak sudah siap menunggu untuk menerkam di tikungan. Ironisnya, ketika kita berbicara soal inspirasi, pengutipan sumber inspirasi menjadi penting, sedangkan, dalam pinjukan sumber kutipan boleh-boleh saja tidak disebutkan.
  3. Artinya bukan bahwa seni hanya bisa dilakukan dengan metode pinjukan. Picasso hanya menyatakan bahwa seni modern bekerja dalam ruang lingkup tersebut. Buktinya, banyak karya seni yang tidak menggunakan metode ini.
  4. Lukisan Mahendra yang berjudul Family Tree 2, van Gogh Bouyeri merupakan potret wajah seorang teroris yang bernama Mohammed Bouyeri dan seorang sutradara film dari Belanda yang bernama Theo van Gogh. Bouyeri membunuh van Gogh di pinggir jalan dengan menembaknya serta berulang kali menusuk tubuhnya; ia juga berusaha memenggal leher van Gogh, tetapi, rupanya memisahkan kepada dan tubuh tidak semudah itu, sekali pun ia sudah pernah berlatih dengan domba curian. Dalam arti ini, Mahendra meminjuk kejadian faktual, tetapi, ia juga bermain dalam pinjukan internal ketika ia menggunakan teknik gambar Vincent van Gogh, untuk melukiskan karyanya. Kebetulan, Theo van Gogh masih merupakan kerabat dari Vincent van Gogh.
  5. Itu pun, dalam beberapa kasus, pemirsa dengan cakrawala luas masih bisa menemukan kesulitan dalam memaknai karya-karya seni dengan metode pinjukan. Dengan begitu banyaknya materi yang tersedia dewasa ini, seniman bisa dengan mudah meminjuk apa saja dari mana saja. Ambil contohnya lukisan Family Tree 2, van Gogh Bouyeri, karya Mahendra Yasa. Bagi pemirsa Indonesia, Bouyeri dan van Gogh, yang secara geografis dan politis jauh, tidak memiliki kemendesakan, sehingga, kita tidak bisa langsung memahaminya. Artinya, kita perlu melakukan pembacaan lebih, pembacaan di luar lukisan itu untuk dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi, fakta-fakta apa yang berusaha diangkat oleh Mahendra, dan dengan demikian, apa yang sebenarnya berusaha disampaikan oleh Mahendra. Hanya dengan melakukan penelitian tersebut baru kita bisa dapat menghargai karyanya. Itu pun, kita sebenarnya masih boleh kebingungan dibuatnya, lain dengan misalnya, seandainya lukisan itu menggambarkan Basuki Abdullah dan pembunuhnya.
  6. Penulis Amerika, Jonathan Franzen pernah mengatakan bahwa sekarang para penulis sudah kekurangan materi kreatif sehingga mereka perlu mencari bahan-bahan dengan bantuan riset. (http://www.theparisreview.org/interviews/6054/jonathan-franzen-the-art-of- fiction-no-207-jonathan-franzen). Di sisi lain, ini juga bisa berarti begitu banyak bahan yang bisa digarap, sehingga banyak materi yang sebelumnya tak pernah diperkirakan menjadi mungkin.

 


Dirdho Adithyo lahir di Jakarta. Ia belajar di LSPR, Jakarta dan sempat melanjutkan pendidikan di Program Magister Filsafat, STF Driyarkara. Beberapa kali menulis perihal sastra, musik, dan seni rupa di beberapa media. Selain sibuk mengelolah kos-kosan di wilayah jakarta Selatan, ia juga aktif sebagai penerjemah.